SMP Kemasyarakatan Ndoso Tentang adalah sebuah sekolah swasta ternama di kecamatan Ndoso, Manggarai Barat, NTT. Sekolah ini berada di bawah naungan yayasan St. Fransiskus dan didirikan pada tanggal 15 Januari 1971 oleh Pater Florianus Laot, OFM. Motto P. Flori "DIA harus semakin besar dan aku semakin kecil". Informasi Lebih Lanjut Dapat mengunjungi link berikut ini. #Channel Youtube: SMP KEMASYARAKATAN NDOSO #email:smpkemasyarakatanndosotentang@gmail.com
Kamis, 02 Juni 2022
Jumat, 27 Mei 2022
Rabu, 27 April 2022
Sabtu, 23 April 2022
Sabtu, 05 Maret 2022
Pedagogik kemasyarakatan, Tulisan "Maria Frani Ayu"
Pedagogik kemasyarakatan, ketika pertama kali mendengar kalimat ini, saya langsung sangat penasaran dengan apapun ini. Saya sudah sering mendengar kata “Pedagogik”, tapi kalau kata ini dikombinasikan dengan kata “masyarakat”, saya merasa yakin bahwa kombinasi itu akan sangat spektakular dan menarik!
Dugaan saya benar. Pedagogik kemasyarakatan mengandung arti dan nilai yang sangat mendalam. Pedagogik, secara sederhana diartikan sebagai “pembelajaran” atau kegiatan belajar-mengajar. kalau kata ini dikombinasikan dengan kata “kemasyarakatan”, maka akan menjadi kegiatan dan proses pembelajaran yang berasal dari, oleh dan untuk masyarakat. Pedogogik kemasyarakatan sangat erat kaitannya dengan unsur sosial budaya dari tempat belajar para siswanya.
Pendidikan yang ditanamkan dalam pedagogik kemasyarakatan adalah pendidikan yang menekankan dan mengikutsertakan nilai-nilai kebijakan yang lahir, bertumbuh dan menjadi pegangan masyarakat tempat siswa tumbuh dan belajar. Pendidikan itu, harusnya demikian, Ia bukan?
…
Tulisan ini lahir dari pengalaman saya pribadi, yang juga berarti lahir dari pemikiran dan cerita saya. Beberapa orang mungkin tidak merasa “relate” dengan masalah dan juga pemikiran yang saya bagikan. Tulisan-tulisan ini lahir saat, dan setelah saya membaca buku “Pedagogik Kemasyarakatan”, yang ditulis oleh banyak praktisi pendidikan, dan diedit oleh Kasmir Nema, Benny Denar dan Frumensius Gions. Topik yang ada dalam tulisan ini acak, tapi masih meninggalkan benang merah yang menghubungkan satu topik ke topik yang lainnya.
…
Belajar keras vs Belajar cerdas
Saya tidak pernah benar-benar bertanya, “Mengapa saya belajar seperti ini?, ” “Mengapa saya harus mempelajari hal ini, dengan cara ini?.” Tentu saja, ketika saya diberi kebebasan untuk belajar dan berpikir sendiri, yaitu ketika saya memegang status sebagai Mahasiswi, barulah pikiran saya sedikit terbuka untuk melihat setiap alasan di balik setiap aksi.
Saya tidak ingin meninggalkan yang misterius menjadi hanya misteri saja, tapi bergerak untuk menyingkap tabir misteri dan serta merta mencari jawaban dibalik setiap pertanyaan. Saya menolak mengikuti saran dari Ibu Theresa untuk menahan sikap ingin tahu yang saya miliki.
Terlambat. Ya, terlambat. Tapi, lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Pada satu titik, saya memahami bahwa pelajaran dan bahkan gaya belajar yang diterapkan di sekolah “dipengaruhi” oleh budaya orang lain. Bukan budaya asli saya.
Saya ingat sekali ketika ada yang pernah mengatakan bahwa penambahan jam belajar di sekolah dasar adalah karena mengikuti gaya belajar orang “Jepang.” Bahwa orang Jepang, yang belajar dengan waktu yang lebih banyak di sekolah, dapat menjadi orang yang pintar dan mampu membanggakan negara. Entah siapakah yang mengatakan hal ini, tapi waktu itu saya termasuk orang yang percaya dan mempraktikkan kepercayaan ini.
Lalu, saya menyesal. Ya, saya menyesal karena pada saat yang bersamaan, saya menemukan istilah “Belajar dengan Cerdas, ” yang juga berarti belajar dengan cara yang efektif, menyenangkan dan dapat menghasilkan! (Being productive).
Setelah menemukan mengenai “belajar dengan (cara yang lebih) cerdas”, saya sibuk untuk mencari cara belajar yang nyaman dan tepat untuk saya. Belajar bahkan menjadi aktivitas menyenangkan yang membuat saya lupa waktu. Saya sedang tidak belajar, saya sedang menikmati hidup!
Jika dulu belajar adalah kegiatan yang menjadi beban, sekarang kegiatan belajar adalah aktivitas mandiri menyenangkan yang secara rutin saya lakukan. Saya merasa menjadi manusia yang lebih baik (level up) dengan belajar. Saya rasa, mungkin pada saat inilah orang-orang berkata, “Belajar sampai akhir hayat.”
Saya tidak membatasi diri ketika saya belajar. Saya belajar karena saya menginginkannya, dan karena saya ingin “mengubah” sesuatu. Lebih penting adalah untuk membuat diri saya lebih baik dari hari kemarin. Motivasi belajar saya, sudah bukan diwarnai dengan keterpaksaan, tapi adalah kebutuhan. Saya butuh belajar, dan mengisi otak saya dengan sesuatu yang menyenangkan.
Belajar itu pun adalah hidup. Adalah bagian dair hidup, dan adalah hidup itu sendiri.
…
Buah Pengetahuan
Saya mengambil dan memakan buah “terlarang” dari taman Eden itu, dan membayar pengetahuan dengan rasa sakit dan penderitaan. Nampaknya, penulis kitab Kejadian memahami bahwa pengetahuan adalah sumber penderitaan dan bencana. Ketidaktahuan, atau mungkin kepura-puraan untuk tidak mengetahui akan membebaskan pikiran dari beban dan rasa sakit. Pengetahuan, dan rasa keingintahuan kemudian diperangi. Kebodohan dan ketidaktahuan kemudian diagung-agungkan.
Saya memilih untuk menjadi seperti Hawa. Mengambil buah terlarang, dan menikmati kutuknya. Pengetahuan, nampaknya adalah kutukan yang membebaskan. Jika saya bisa mengartikannya demikian.
Menggali ilmu pengetahuan, dan memuaskan diri dengan pengalaman untuk menemukan pengetahuan adalah jalan penderitaan tersendiri. Tidak ada yang benar-benar “Cuma-Cuma” atau gratis. Semuanya dibayar atau ditukarkan dengan sesuatu. Minimal adalah waktu.
…
Pendidikan yang mengawinkan nilai kemasyarakatan dan nilai keagamaan
Salah satu hal yang dapat saya pelajari dari buku yang berjudul “Pedagogi Kemasyarakatan” adalah mengenai perkawinan antara nilai kemasyarakatan dengan nilai keagamaan, dalam loyang “pendidikan” (Kegiatan belajar-mengajar).
Sebelumnya, saya sungguh menilai bahwa pendidikan atau kegiatan belajar mengajar yang ada di kelas, adalah sesuatu yang sangat asing. Saya tidak tahu apa tujuannya belajar, dan mengapa saya harus datang hampir setiap hari ke sekolah. Pengalaman saya tentang pendidikan itu, tidak mulus. Saya menyimpan pengalaman yang tidak menyenangkan dengan guru-guru yang mengajar saya dulu. Saya pun merasa “sedang tidak belajar” ketika berada di dalam kelas.
Belum lagi, apa yang saya pelajari adalah hal-hal yang asing, dan sangat sulit untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa semua konsep yang diajarkan kepada saya sifatnya abstrak semua? Saya mengalami tekanan hanya dengan memikirkan hal seperti ini.
Pendidikan itu, seharusnya tidak demikian. Tujuan dari pendidikan adalah untuk memampukan individu untuk beradaptasi dengan kehidupannya di dunia ini. Tujuan pendidikan adalah untuk dapat hidup dan menikmati hidup dengan cara-cara yang baik dan pantas. Untuk alasan inilah mengapa pendidikan dikemas harus “dekat “ dengan kehidupan, dan dapat segera diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau pembelajaran itu sifatnya “abstrak”, entahlah bagaimana saya dapat mempraktikkannya.
Belajar pun tidak 100% berasal dari buku teks. Sungguh! Ini adalah pandangan yang sangat keliru dari saya sendiri. Saya berpikir sebelumnya bahwa belajar itu, adalah kegiatan untuk memindahkan isi buku ke dalam otak. But, in fact, no!
Belajar itu bisa di mana saja, dan dari apa saja. Bahkan, akan lebih baik kalau belajar bisa dilakukan secara langsung dari kehidupan. Akan lebih cepat ingat, dan akan dapat digunakan untuk membantu hidup manusia.
Pendidikan yang dibangun dengan mempertimbangkan nilai kemasyarakatan, yang juga didalamnya mengandung unsur kepercayaan akan membuat sang pelajar dapat belajar dengan lebih cepat, tepat dan bermanfaat. Pelajaran tidak akan menjadi kesia-siaan, karena sumber belajar adalah kehidupan individu dalam masyarakat itu sendiri, dan nanti akan digunakan untuk dapat hidup di lingkungan masyarakat itu juga. Dari, oleh dan untuk masyarakat, seperti itu kira-kira maknanya.
Proses belajar itu pun, tidak seharusnya kaku! Belajar itu, baiknya adalah senyaman bernafas, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bukan berarti bahwa institusi seperti sekolah tidak boleh ada, tapi bahwa belajar itu tidak perlu dilakukan pada hanya satu tempat saja, yaitu sekolah. Belajar haruslah dilakukan di banyak tempat, dan dimulai dari rumah tempat tinggal.
Belajar bertujuan untuk “mengubah” atau berubah. Ada perubahan yang dihasilkan dari kegiatan belajar, dan jika tidak ada perubahan maka kegiatan belajar itu menjadi sia-sia belaka.
Baca juga: Redefine Education: Belajar dari Bajak Laut
…
Sampai saya selesai menulis mengenai buku ini, saya masih belum selesai membaca keseluruhan isi buku. Buku ini ditulis oleh banyak orang, dengan latar belakang yang berbeda-beda dan dengan kemampuan menjabarkan masalah yang berbeda-beda pula.
Saya sangat dan sungguh menikmati melahap sampai habis isi buku ini!
Tidak seperti biasanya, saya menyantap buku ini dengan perlahan disela-sela waktu sibuk. Memang, akhir-akhir ini kebiasaan saya membaca buku sedikit berbeda. Jika sebelumnya saya menggunakan target untuk menyelesaikan satu buku, saat ini tidak. Saya tidak sedang berlomba dengan waktu ketika menyelesaikan sebuah buku. Bagi saya saat ini adalah, “pelajaran apa yang bisa saya petik dan saya gunakan dari buku yang saya santap.” Itu saja.
Buku ini, memang tidak bisa dilahap hanya dalam satu kali duduk atau dalam satu satuan waktu (misalkan satu minggu). Isinya padat dan sangat bergizi. Pengetahuan yang dipaparkan didalamnya, dan bahkan opini yang diciptakan penulis adalah sesuatu yang sangat-sangat cerdas dan menarik.
Saya harap, teman-teman juga dapat menikmati buku ini, sama seperti saya yang juga menikmatinya (dengan sangat).
Jika kamu memiliki pendapat mengenai isi buku ini, dan berniat untuk membagikannya, silakan menuliskan komentarmu di bawah ini.
As always, salam hangat dari saya.
Sincerely, Ayu.
…
PS.
Buku ini bisa kamu peroleh langsung, dengan memesan pada narahubung atas nama Kasmir Nema, WA +63 967 405 8844.
Rabu, 23 Juni 2021
Corona Menahan Langkahku Ke Sekolah
Haiii … aku Jei, siswa SMP Kemasyarakatan Ndoso. Sekilas aku akan mengisahkan tentang langkahku dalam meraih mimpi meskipun dibelenggu pandemi virus corona.
Jarak dari sekolah ke rumahku kurang lebih 1 km. Meskipun setiap harinya aku dan teman-temanku melewati jalanan tanjak dan berliku untuk sampai ke sekolah, namun tak menyurut semangat kami untuk menuntut ilmu di sekolah. Aku menjalaninya dengan sukacita dan riang gembira. Banyak hal yang kuperoleh dari setiap langkahku menuju sekolah meskipun menyusuri aspal berbatu dan rusak parah. Aku termotivasi bahwa untuk mencapai kesuksesan, mesti melewati rintangan dan tantangan berarti.
***
Musim pun silih berganti. Musim itu pula yang mengantarku hingga sampai pada hari ini. Akhir-akhir ini, virus corona menjadi topik perbincangan di sekolah. Pandemi corona meyebabkan kepanikan bagi sekolah dan masyarakat. Televisi nasional dan berbagai sosial media ramai membicarakan pandemi ini. Guru-guru di sekolah selalu menganjurkan kami untuk selalu mematuhi protokol kesehatan.
“Selamat siang semuanya,” sahut pak Sipri sebelum memberi mandat kepada seluruh siswa menjelang pulang.
“Selamat siang juga pak,” jawab kami serempak, menyahut pak Sipri, kaur kurikulum sekolah kami.
Pak Sipri memberi pengumuman kepada para siswa. “Anak-anak saat ini negara kita sedang berada dalam masa kritis. Tadi pagi
sekolah kita mendapat surat dari dinas pendidikan setempat. Surat itu berisi: bahwa untuk mencegah penyebaran virus corona dan menjaga keselamatan kita, maka dalam waktu yang tak ditentukan kita akan menerapkan sistem belajar dari rumah (BDR). Sekolah tidak menerapkan sistem pembelajaran online diakibatkan sebagian besar wilayah kita belum terjangkau jaringan telepon dan internet. Kita juga terkendala oleh tidak tersedianya listrik serta peralatan Informasi dan Komunikasi di beberapa tempat.”
“Oleh karena itu, silahkan kalian pulang ke rumah masing-masing. Nanti ibu bapak guru akan mengunjungi kalian untuk memberikan materi dan tugas. Beberapa waktu ke depan, kalian belajar di rumah dulu. Sekian dan terima kasih, hati-hati di jalan.” Penegasan lanjut dari pak Sipri.
Aku dan teman-temanku melanjutkan perjalanan menuju rumah. Sesampainya di rumah aku menceritakan semua ke ibu dan ayah tentang apa yang telah disampaikan pak Sipri di sekolah. Ayahku kelihatannya keberatan dengan kebijakan tersebut.
“Nu, jika memang seperti itu. Siapa yang akan mengajar kamu? Bukankah ilmu itu perlu dijelaskan? Tidak cukup dengan memberi materi dan tugas saja. Apalagi ayah sama ibu setiap hari harus ke kebun, berangkat pagi pulang sore.” Ayah mengutarakan kekesalannya dengan raut wajah kesal.
“Bapak, bagaimanapun juga pemerintah dan pihak sekolah telah mempertimbangkannya dengan matang. Tentu kebijakan itu yang terbaik untuk anak kita. Apakah bapak mau anak kita keselamatannya terancam ?” Ibu membantah ayah.
“Betul apa yang disampaikan ibu, yah. Kita harus mengutamakan keselamatan nyawa.” Aku meneruskan maksud ibu.
“Ya udah, ayah tidak permasalahkan lagi nu. Asalkan kamu belajar dengan giat dan tekun ya. Nanti, jika kurang dipahami, boleh belajar sama ayah atau ibu ya. Ayah dan ibu akan selalu siap menjadi guru bagi anak semata wayang ayah ibu yang cantik.” Tegas ayah menguatkan aku.
Minggu, 17 Januari 2021
Antara Bahagia & Sedih, Pembukaan Pesta Emas/ HUT ke-50 SMP Kemasyarakatan Ndoso
Pembukaan HUT ke-50 SMP Kem. Ndoso Tentang diselenggarakan pada Jumat, 15 Januari 2020. Panitia dalam perayaan ini adalah guru-guru SMP Kemasyarakatan Ndoso. Puncak HUT rencananya akan berlangsung pada bulan Mei 2021. HUT kali ini dilaksanakan bersamaan dengan acara perutusan P Yulius F. Kurniawan menuju Roma-Italia untuk melanjutkan studi. Berbeda dengan acara HUT sebelumnya, HUT kali ini dibatasi oleh mekanisme pembatasan sosial berskala besar akibat semakin ganasnya pandemi covid 19 sehingga hanya mampu dirayakan secara sederhana tanpa dimeriahkan banyak orang. Meskipun konsep acaranya sederhana, perayaan HUT tetap saja bermakna bagi segenap keluarga besar yayasan dan SMP Kem. Ndoso.
Acara dimulai dengan atraksi Marching Band SMP Kem. Ndoso dengan lagu Semua Bunga Ikut Bernyanyi, Mars SMP Kem. Ndoso dan lagu selamat ulang tahun. Setelah atraksi marching band, dilanjutkan dengan misa syukur atas HUT ke-50. Misa itu dipimpin langsung oleh Pater Andre Bisa OFM (Pastor Paroki Tentang), Pater Yulius Kurniawan OfM, dan Pater Andry Djipto, OFM (Kepala Sekolah SMP Kem. Ndoso) dan dihadiri oleh beberapa tokoh masyarakat serta Para Guru dan siswa SMP Kem. Ndoso.
Acara pemotongan kue Ulang Tahun dan resepsi bersama dilaksanakan tepat setelah misa. Acara tersebut dihadiri oleh para guru dan Kepala Sekolah, Br. Damasus Lekan Udjan, OFM.M.Pd (Ketua Yayasan), pastor paroki Tentang, Kepala Desa Tentang, Ketua Komite yang mewakili orangtua siswa, beberapa suster sfsc, dan beberapa undangan yang mewakili alumni dan tokoh masyarakat.
Perayaan HUT ke-50 kali ini menghadirkan kesan tersendiri bagi segenap Keluarga Besar lembaga, dimana kesan bahagia memadu bersama isak sedih. Pater Feri sebentar lagi akan diutus menuju Roma. Berbagai momen kebersamaan dengan P Feri OFM selama 1 tahun lebih tentunya masih melekat di benak setiap insan keluarga besar lembaga dan paroki. Sebagai bendahara yayasan, pembina asrama sekolah dan seniman, banyak hal telah diberikan pater. Spirit Fransiskan menggelora dalam jiwa dan tindakannya. Mulai dari memanusiakan manusia, pelopor maju dan berkembangnya infrastuktur paroki dan asrama serta mederator utama OMK Paroki Tentang. Antara HUT dan perutusan P Feri itu ibarat dua sisi hati yang yang saling bertentanagan.
Ketua Yayasan, kepala sekolah, ketua komite dan beberapa tokoh masyarakat melalui sambutan, selain mengucapkan selamat ulang tahun dan mengutarakan harapan serta cita-cita besar mereka untuk SMP, mereka juga mengucapkan salam perpisahan dan memberikan nasehat-nasehat mulia kepada P Feri.
Akhir kata, semoga di usia emas ini, SMP Kem. Ndoso semakin banyak mencetak generasi yang cerdas, berintelektual, baik budinya, kaya ilmu dan juga mampu menerapkan dalam kehidupan sosial bermasyarakat, serta dapat menjadi teladan bagi sesamanya, baik di masa kini juga masa yang akan datang.
Link video: https://youtu.be/2cQtsH1dnqc
Moment yang diabadikan
| Bpk. Martinus Mboe Ketua Komite |
| P Yulius F. Kurniawan, OFM |
| Br. Damasus Lekan Udjan, OFM.M.Pd Ketua Yayasan |









